Perkenalkan, namaku Rindu. Umurku 13 tahun. Seharusnya sekarang aku
sudah SMP, tetapi karena faktor ekonomi, jadi aku tidak melanjutkan
sekolah. Aku sekolah hanya sampai kelas 6 SD. Kini aku harus bekerja
membantu ibu. Ayahku sudah meninggal sejak aku kelas 3 SD karena
kecelakaan. Sejak saat itu, hidup kami sangat kekurangan. Aku berjualan
koran untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan aku menabung sedikit
demi sedikit agar aku bisa melanjutkan sekolah. Sedangkan ibuku hanya
sebagai pemulung, tapi aku tetap bangga kepada beliau.
Aku
tinggal di sebuah rumah yang sangat kecil, mungkin sudah tidak bisa
disebut rumah lagi. Tempat yang aku sebut sebagai rumah tadi hanya
terbuat dari rotan, atapnya tidak tertutup dengan rapat, sehingga jika
panas kepanasan, dan jika hujan kehujanan.
Siang itu
hujan deras sekali. Aku beristirahat sejenak di sebuah warung. Aku pun
membaca koran yang aku jual. Di bagian atas koran tersebut terdapat
tanggal hari ini. Ternyata hari ini sudah tanggal 20 Desember. "Berarti
besok lusa adalah hari ibu?" gumamku. Aku ingin sekali memberi hadiah
kepada ibuku saat hari ibu nanti. Tapi mau dibelikan apa? Dan apa
uangku cukup untuk membelinya? Aku bingung memikirkannya. Karena hujan
sudah reda, aku pun memutuskan untuk kembali menjual koran tersebut,
mungkin nanti bakalan dapat ide.
Hari sudah sore. Aku
pun pulang. Saat perjalanan pulang, aku melihat ada orang yang
berjualan mukena. Aha! Aku memutuskan untuk memberi ibu mukena pada
saat hari ibu nanti. Aku menghampiri orang yang berjualan mukena tadi.
"Ini harganya berapa, Bang?" tanyaku sambil menunjukan mukena yang
lumayan bagus. "70 ribu, Dek." jawab penjual itu. "Tidak bisa kurang?"
aku pun menawar. "Tidak Dek. Itu sudah harga pas." penjual itu pun
pergi untuk melayani pembeli yang lain.
*skip*
Malam
harinya aku memecah celenganku. *Pyaarrr* uang receh pun berserakan.
Setelah aku hitung, aku cuma punya uang 35 ribu. Masih kurang 35 ribu
lagi. Apa aku bisa mendapatkan uang itu dalam 2 hari? Kalau hanya
dengan berjualan koran, pasti tidak akan bisa. Apa yang harus aku
lakukan? Setelah berpikir cukup lama. Aku pun menemukan cara bagaimana
agar aku bisa mendapatkan uang itu. Akhir-akhir ini sering hujan, maka
aku akan membersihkan kaca mobil-mobil yang sedang berhenti di
perempatan jalan. Semoga dengan cara ini, aku bisa mendapatkan uang 35
ribu. Karena hari sudah malam, aku pun tidur.
*keesokan harinya*
Pagi-pagi
sekali aku sudah pergi untuk mengantarkan koran kepada langgananku.
"Aku berangkat ya, Bu." kataku sambil mencium tangannya. "Hati-hati ya,
Nak. Maafkan ibu karena telah membuatmu susah seperti ini." kata ibu
dengan penuh kasih sayang. "Tidak apa-apa, Bu. Aku senang bisa membantu
ibu. Ya sudah, aku harus pergi sekarang. Assalamu 'alaikum" "Wa
'alaikumsalam"
Alhamdulillah hari ini koranku laku
banyak. Tapi tetap saja uangnya belum cukup. Aku sangat mengharapkan
hujan. Setelah menunggu sekian lama, hujan pun turun. Aku sangat
senang. Aku pun segera membersihkan kaca mobil yang sedang berhenti
karena lampu lalu lintas menunjukkan warna merah. Wah ternyata
pekerjaan ini sangat menyenangkan. Meskipun ada beberapa orang yang
menolak jika kacanya aku bersihkan, bahkan sampai ada yang memarahiku.
Yah begitulah, jika derajat orang sedang di atas, dia akan melecehkan
orang-orang yang ada di bawahnya.
Hujan pun reda. Aku
juga memutuskan untuk pulang. Untung ibu belum pulang, jadi dia tidak
akan marah-marah karena badanku yang basah kuyup. Sampai rumah, aku
langsung menghitung uang yang aku dapat hari ini. Ternyata hari ini aku
mendapatkan uang 30 ribu. "Yah, masih kurang 5 ribu. Tapi tidak
apa-apa, besok masih bisa mendapatkannya." pikirku. Tapi, gara-gara
hujan-hujan tadi, aku merasa kepalaku sangat pusing. Aku memang tidak
tahan dengan air hujan, tubuhku ringkih. Ibu juga sering melarangku
hujan-hujan karena dia tidak mau jika aku sakit. Karena tidak tahan
dengan pusing yang aku rasakan, aku pun tertidur.
*keesokan harinya*
Aku
kembali bekerja berjualan koran meskipun badanku sedikit demam. Ibu
melarangku bekerja hari ini, tapi aku tetap nekat untuk bekerja. Karena
jika aku tidak bekerja, aku tidak akan bisa membelikan hadiah untuk
ibu. Mungkin ibu tidak ingat bahwa hari ini adalah hari ibu, jadi dia
bersikap biasa-biasa saja. Aku sengaja tidak mengingatkannya karena aku
ingin memberi surprise buat ibu.
Setelah bekerja dan uangku sudah terkumpul untuk membeli mukena. Aku pun pergi ke toko mukena yang dulu pernah aku datangi.
"Bang, mukena yang dulu itu masih ada?"
"Ow, kamu adiknya yang kemarin lusa itu? Tunggu sebentar, sepertinya masih ada."
"Iya, Bang." Aku pun menunggunya. Penjual itu pun kembali dengan membawa mukena yang aku maksut.
"Ini Dek." katanya sambil menyerahkan mukena itu kepadaku.
"Iya Bang, yang ini. Harganya berapa Bang."
"Masih tetap, Dek. 70 ribu."
"Ini Bang. Makasih ya, Bang." kataku sambil menyerahkan uang lalu pergi.
Aku
sangat senang karena bisa memberikan hadiah kepada ibu, meskipun ini
hanya mukena bekas, tapi aku yakin pasti ibu akan senang. Saat pulang,
aku juga membelikan makanan untuk ibu. Aku ingin membuat hari ini
menjadi hari yang spesial.
Sesampainya di rumah, aku
menyiapkan segalanya. Aku menyiapkan makanan dan juga hadiah yang aku
beli tadi. Karena di rumahku tidak ada listrik, maka aku harus
menggunakan lilin sebagai penerangan. Aku menunggu ibu cukup lama. Ibu
memang sering pulang sampai larut malam. Aku menunggu, menunggu, dan
terus menunggu. Sampai akhirnya kepalaku terasa sangat pusing seperti
kemarin malam. Aku berusaha untuk melawan rasa sakit itu. Tapi
tiba-tiba pandanganku buram, penglihatanku tidak jelas. Sampai akhirnya
aku tidak bisa berdiri dengan seimbang dan pingsan. Tapi saat jatuh
pingsan, aku merasa menjatuhkan benda, entahlah benda apa itu.
Entah
berapa lama aku pingsan, tapi sekarang aku merasakan sesak napas dan
tubuhku merasakan panas. Semacam ada banyak gas yang baunya sangat
tajam dan panas. Mataku terbuka perlahan. Aku lihat sekelilingku. Api!
Aku dikelilingi api. Aku tidak tahu harus bagaimana. Sudah tidak ada
jalan keluar. Aku juga tidak kuat untuk berdiri. Aku hanya bisa
berteriak minta tolong. Dan aku mendengar teriakan ibu
memanggil-mabggil namaku. Aku pun ingat, ternyata benda yang aku
jatuhkan tedi adalah lilin. Lalu api dari lilin itu merambat dan
membakar rumahku. Aku merasa mungkin aku akan mati sekarang. Aku pun
mencari hadiah yang akan kuberikan kepada ibu. Aku mendekapnya
erat-erat. Aku tidak mau jika hadiah itu ikut terbakar. Tapi api
semakin merajalela. Aku memejamkan mata. Aku benar-benar tidak bisa
bernapas. Dan akhirnya aku merasakan tubuhku melayang-layang dan......
*di tempat lain*
Tubuhku
terasa lelah. Aku memutuskan untuk segera pulang. Saat mendekati rumah,
tampak banyak orang berlarian menuju rumahku. Bahkan ada yang bilang
"yang sabar ya, Bu." Aku pun bingung. Ada apa ini sebenarnya? Aku
berlari menuju rumah. Betapa terkejutnya aku ketika melihat rumahku
habis dilalap api. Rindu? Bagaimana Rindu? "Pak,apakah Rindu juga ada
di dalam?" tanyaku kepada salah satu orang yang ikut berlarian
memadamkan api. "Sepertinya iya, Bu. Kami tadi mendengar teriakan minta
tolong." "Apa? Tidak! Pak, tolong selamatkan anak saya, Pak! Saya
mohon selamtkan anak saya. Dia satu-satunya yang saya punya, Pak." aku
pun menangis. Aku tidak ingin kehilangan anak sematawayangku,
satu-satunya yang aku miliki. "Rindu! Rindu!" Aku berteriak memanggil
Rindu dan hendak masuk ke rumah untuk menyelamatkannya, tapi
orang-orang menahanku. Aku hanya bisa menangis, meratapi semua ini. Aku
terduduk lemas. Ibu-ibu menenangkanku.
Akhirnya api
itu bisa dipadamkan setengah jam. Aku pun bergegas mendekati rumahku.
"Bagaimana anak saya? Dia masih bisa selamat kan?" tanyaku panik.
"Maaf, Bu. Sepertinya Rindu kehabisan napas. Dia sudah tidak ada.
Ikhlaskan, Bu. Saat kami menemukan jasadnya, dia sedang membawa
bingkisan ini. Bingkisan ini dipeluknya sangat rapat sehingga tidak
terbakar. Sepertinya bingkisan ini sangat berguna sampai ia
melindunginya. Tangisanku pun menjadi-jadi. Aku kehilangan orang yang
sangat aku sayang. Lalu siapa yang akan menemaniku? Sepertinya hidupku
sudah tidak berguna lagi. Hidup miskin sebatangkara.
Aku
pun mulai tenang. Aku tahu, jika aku terus menangis, Rindu pasti juga
akan sedih. Aku teringat akan bingkisan yang dibawa Rindu. Aku
membukanya. Isinya mukena yang sangat bagus. Setelah aku ingat-ingat,
ternyata hari ini adalah hari ibu. Ternyata Rindu membelikan ini
untukku? Ya Tuhan, siapa yang tidak merasa sedih jika kehilangan orang
yang sangat baik seperti Rindu. Kini aku telah mengikhlaskannya. Aku
yakin Rindu pasti bahagia di sana. Doa ibu akan selalu menyertaimu,
Nak. Air mataku kembali mengalir. Di dalam bingkisan tersebut juga ada
surat. Surat itu berisi.
Aku lahir tanpa apa-apa
Engkaulah yang mengajariku segalanya
Membesarkanku dengan segala upaya
Berharap aku kan menjadi orang yang berguna..
Engkau menegurku ketika aku salah
Engkau mengingatkanku ketika aku lupa.
Terimakasih Ibu...
Engkaulah segalanya bagiku
Tanpamu aku bukanlah siapa-siapa
Kasihmu padaku takkan terbalas sepanjang masa..
Maaf jika aku belum bisa menjadi yang terbaik bagimu
Tapi aku akan selalu berusaha agar engkau bangga kepadaku..
Selamat hari ibu..Love u mom..





