Siang itu Aku pulang sekolah dengan keadaan menangis karena aku diejek teman-temanku. Mereka bilang bahwa ibuku itu penyakitan, tidak pernah mengurusku, bahkan aku lah yang mengurus ibu. Aku iri dengan teman-temanku yang selalu diantar jemput oleh ibunya.
"Loh, kenapa nangis?" sambut ayah ketika melihat aku pulang.
"Yah, kenapa sih ibu itu selalu sakit. Ga pernah sehari aja dia sembuh." jawabku kesal.
"Huss. Kamu kok ngomong gitu?"
"Aku malu punya ibu yang selalu sakit seperti itu, Yah. Teman-temanku setiap hari dijemput ibunya. Sedangkan aku? Ibu tidak pernah menyemput dan merawatku, malah aku yang selalu merawat dia."
"Jaga omonganmu! Meskipun sakit seperti itu, dia tetap ibumu! Dia yang telah melahirkan kamu! Kamu jangan menjadi anak yang durhaka. Apa kamu tahu, apa penyebab ibumu menjadi sakit seperti itu?"
"Tidak! Memang kenapa ibu sakit?"
"Ibu dulu sehat, sangat sehat. Dia sakit karena.."
"Sudah! Jangan lanjutkan lagi!" kata ibu memotong pembicaraan ayah.
Aku pun berlari menuju ke kamar. Sebelumnya, ibu tersenyum kepadaku. Dari kamar, aku samar-samar mendengar pembicaraan ibu dengan ayah.
"Jangan biarkan Tika tahu tentang penyebab penyakitku." kata ibu lembut.
"Tapi dia sudah kurangajar kepadamu. Aku tidak terima jika dia terus seperti itu."
"Sudahlah, tidak apa-apa. Aku tahu perasaannya, pasti dia malu, dia ingin mendapatkan kasih sayangku. Aku ikhlas menjalani semua ini."
"Tapi sampai kapan kamu akan menyembunyikan semua ini?"
"Sampai waktunya tiba."
Sebenarnya aku juga tidak ingin berkata seperti tadi. Aku juga sangat sayang dengan ibu. Tapi aku sudah tidak tahan dengan ejekan teman-temanku. Tubuhku sendiri juga lemah. Aku juga sering sakit. Tetapi aku juga tetap bisa sembuh, tidak seperti ibuku. Apa penyakit ibu itu menurun kepadaku? Aku tidak mau jika hal itu terjadi. Aku tidak mau sakit terus.
Malam itu dadaku terasa sakit. Susah bernapas. Aku pun memanggil ayah. "Tika! Kamu kenapa?" Aku sudah tidak bisa menjawab. Aku pun pingsan.
*rumah sakit*
Ibu dan Ayah Tika panik. Mereka paling tidak tega jika anak semata wayangnya sakit. Dokter keluar dari ruangan di mana Tika dirawat.
"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" kata Ibu Tika panik.
"Paru-parunya lemah, Bu. Saya dulu sudah pernah bilang, jika Tika lahir, dia akan selalu mengalami gangguan kesehatan. Dia butuh donor paru-paru sekarang." jawab dokter dengan berat hati
"Lakukan yang terbaik, Dok. Saya mohon." pinta Ayah Tika.
"Tika butuh donor paru-paru secepatnya."
"Ambil saja paru-paru saya, Dok. Yang penting anak saya sembuh." kata Ibu Tika.
"Tapi Bu, organ tubuh ibu sudah banyak dikorbankan untuk Tika. Jika paru-paru ibu didonorkan, malah nyawa ibu yang tidak bisa diselamatkan." kata dokter.
"Tidak apa-apa Dok. Lakukan yang terbaik untuk anak saya. Saya rela melakukan apa pun demi keselamatannya meskipun itu berarti saya harus mengorbankan nyawa saya." pinta Ibu Tika.
"Tidak! Kamu sudah cukup mengorbankan organ tubuhmu untuk Tika. Toh dia juga tidak tahu terimakasih. Dia justru kurangajar denganmu." Ayah Tika mencegah istrinya agar tidak mengorbankan paru-parunya.
"Tidak apa-apa, Yah. Inilah yang dinamakan pengorbanan. Kalau Tika tahu tentang semuanya, pasti dia akan menyesal. Mungkin dengan cara ini, dia jadi lebih berbakti kepada orangtua." kata ibu Tika terisak. "Dok, donorkanlah paru-paru saya sekarang. Lebih cepat lebih baik bukan?"
"Baiklah kalau begitu. Ikut saya ke ruang operasi sekarang." kata dokter sambil berlalu.
"Bu, ayah mohon jangan, Bu. Aku tidak ingin kehilangan kamu." ayah memohon kepada ibu.
"Sudahlah, Yah. Kalaupun aku sudah tidak ada, aku akan selalu dekat dengan ayah karena hampir semua organku ada di dalam tubuh Tika." ibu pun pergi ke ruang operasi.
Ayah Tika masuk ke ruangan tempat Tika dirawat. Ternyata Tika sudah sadar, meskipun dia terlihat masih sangat lemas.
"Kamu sudah sadar, Nak?"
"Aku kenapa, Yah?"
"Paru-paru kamu lemah, Nak. Kamu harus dioperasi. Untung ada yang mau mendonorkan paru-paru ke kamu. Kamu siap kan dioperasi?"
"Operasi? Sekarang? Aku takut, Yah. Tapi siapa yang mau mendonorkan paru-parunya ke aku? Baik sekali orang itu."
"Tenang Nak. Ayah akan selalu menjagamu. Nanti kamu juga akan tahu siapa yang mendonorkan paru-parunya untukmu."
Tiba-tiba pintu dibuka. Ternyata Dokter dan suster datang. Mereka membawaku ke ruang operasi. Ayah tersenyum kepadaku. Tapi, aku kok tidak melihat ibu? Di mana dia? Ah entahlah, yang penting sekarang adalah operasiku. Paling ibu juga tidak peduli kepadaku.
*3 jam kemudian*
"Bagaimana keadaan anak dan istri saya, Dok?" kata Ayah setelah melihat Dokter keluar dari ruang operasi.
"Anak anda selamat, Pak. Tapi istri anda. Istri anda tidak dapat diselamatkan, Pak. Hampir semua organ tubuhnya ada pada tubuh anak bapak. Pengorbanan istri anda sangat besar. Harusnya anak anda bangga punya ibu seperti beliau."
"Terimakasih Dok karena telah melakukan yang terbaik untuk kesembuhan anak saya." kata Ayah sambil menjabat tangan dokter tersebut.
*keesokan harinya*
Ayah menghampiriku. "Bagaimana, Nak? Sudah baikan?"
"Sudah, Yah. Ayah mengapa menangis? Bukankah seharusnya ayah senang karena operasiku berjalan dengan lancar?"
"Iya, Nak. Tapi.."
"Tapi kenapa, Yah? O iya, ibu mana? Aku tidak melihatnya dari sebelum aku dioperasi? Terus kemarin seharian ayah ke mana? Kenapa aku ditinggal sendirian?"
"Kamu ingin bertemu ibumu?"
"Iya, Yah."
"Baiklah. Kamu ikut ayah sekarang. Sebelumnya kita minta ijin dulu pada dokter."
*TPU (Tempat Pemakaman Umum)*
"Kenapa ayah mengajakku ke sini?"
"Katanya kamu mau bertemu ibumu."
"Ha? Ibu..Jangan bilang kalau ibu..Ibu kenapa, Yah?"
"Ibumu sudah tidak ada, Nak. Dialah yang mendonorkan paru-parumu." kata ayah dengan berat hati.
"Apa? Tidak! Tidak mungkin!" aku pun memeluk ayah.
Aku dan ayah pun larut dalam kesedihan. Air mata tak henti-hentinya mengalir. Setelah hampir sehari aku dan ayah di makam ibu, kami pun kembali ke rumah sakit karena aku belum benar-benar sembuh.
*seminggu kemudian*
Akhirnya aku pun diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Aku masih dalam suasana berkabung. Aku sangat menyesal atas perbuatanku tehadap ibu. Kini aku sadar, ternyata ibu sakit karena telah mengorbankan hampir semua organ tubuhnya kepadaku. Tapi aku bukannya berterimakasih malah durhaka kepadanya. Ibu, aku sangat menyayangimu. Kasih sayangmu akan selalu aku kenang. Aku pun memohon kepada Tuhan.
Tuhan, pertemukanlah aku dengan ibu sebentar saja. Aku hanya ingin berterimakasih dan memeluknya untuk yang terakhir kali. Aku juga ingin bilang bahwa aku sangat menyayanginya. Ibu, aku janji, aku akan menjadi anak yang berbakti. Aku akan mewujudkan semua keinginan ibu. Aku janji.
Untuk semuanya, berbaktilah kepada orangtuamu, terutama ibumu. Peluklah ia, selagi kita masih bisa memeluknya. Bahagiakan dia, selagi ia masih bisa meneteskan air mata bahagianya. Bantulah ia, selagi ia masih bisa mengucapkan terimakasih kepadamu. Rawatlah ia, selagi ia masih bisa tersenyum kepadamu. Minta maaflah kepadanya, selagi ia masih bisa memaafkanmu. Jangan kecewakan ia karena itu akan menyakiti hatinya. We Love You Mom!





